Seperti personal blog pada umumnya. Ti reyki jang balaréa

Showing posts with label Dasar Kompetensi. Show all posts
Showing posts with label Dasar Kompetensi. Show all posts
Ayam buras di indonesia berkembang seiring dengan berkembangnya budaya masyarakat pedesaan, sehingga ayam butas telah di terima sebagai bagian dari kehidupan, masyarakat. Sejarah perkembangan ayam piaraan di mulai dari Asia Tenggara, khususnya dari daerah Birma pada 6.000 tahun sebelum Masehi dan ayam ini di yakini sebagai nenek moyang dari ayam-ayam baru dikembangkan 600 tahun sebelum Masehi (Stevens, 1991 dan Crawford, 1995). Dari Asia Tenggara, ayam ini kemudian tersebar di India, Eropa dan Amerika. Di dunia ini dikenal lebih dari 6.000 spesies unggas, tetapi hanya beberapa spesies yang telah mengalami domestikasi, satu diantaranya adalah ayam buras.

Teori Monophyletic Origin yang di kemukakan oleh Darwin pada tahun 1868 menyebutkan bahwa asal usul ayam piaraan termasuk ayam buras merupakan keturunan dari satu spesies Gallus gallus. Lima puluh tahun kemudian Ghigi mengajukan teori Polyphyletic Origin yang menyatakan bahwa ayam piaraan sekarang berasal dari persilangan beberapa spesies Gallus gallus, Gallus sonneratii, Gallus lafayetti, dan Gallus varius. Akibat persilangan beberapa gallus tersebut akhirnya memberikan perbedaan dan persamaan warna bulu pada ayam piaraan. Adannya variasi warna bulu tersebut, secara sporadis, sering kali ditemukan pada ayam buras dengan bulu leher gundul (Legund) dan ayam buras walik yang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan hidupnya di daerah tropis (Sidadolog, 1993 dan Sidadolog, dkk., 1996).
Jika kita sedang berbincang tentang ayam buras atau ayam kampung maka akan muncul pertanyaan, seperti apa ayam buras itu? Sulit untuk menjawab secara tegas karena ayam buras itu beragam sekali, baik dari warna bulu, bentuk jengger, cuping telinga sampai ukuran tubuh, Meskipun sulit tetapi orang akan dapat memilih atau membedakan dengan mudah dan benar antara ayam ras dan ayam bukan ras (buras) jika dihadapkan langsung di depannya. Sampai saat ini gambaran kita tentang ayam buras adalah ayam yang keliaran kemana-mana, makan apa saja, dan hidupnya nyaris tak terurus, tetapi dagingnya lezat dan telurnya bisa untuk jamu. Namun demikian beberapa ayam buraas dapat di jumpai antara lain ayam Kedu Hitam, Merawang, Pelung, Nunukan dan lain-lain yang setiap jenis ayam buras memliki spesifikasi tertentu.
Pada awal 1990, masyarakat mengembangkan ayam persilangan (crossing), yaitu  ayam hasil silangan antara ayam buras betina dengan jantan petelur putih atau ayam petelur coklat dengan ayam kate, dengan tujuan untuk menghasilkan telur lebih banyak menyerupai telur ayam buras. Bersamaan itu pula muncul ayam petelur Arab yang dapat memproduksi telur hampir sama dengan ayam ras petelur tipe ringan dan sampai sekarang masih berkembang di masyarakat dan mulai di gali potensi ayam asli daerah seperti Ayam Merawang dari Sumatera Selatan. Pada dekade 2000 ini, muncul lagi bangsa ayam buras strain Ayam Buras Super, yaitu silangan ayam buras dengan ayam ras, namun ayam buras yang betulbetul mampu hidup sederhana atau alamiah itulah yang tetap bertahan sampai saat ini.
Pemilihan bibit Ayam Kampung yang baik tergantung dari induk betinanya. Disarankan jangan membeli ayam kampung di pasar, karena pasar merupakan sumber penyakit. Apabila ingin membeli ayam belilah dari desa di lingkungan Anda, agar ayam tidak mendapatkan cekaman stress, atau beli pada kelompok peternakan dan bisa juga membeli dari para tentangga. Ayam bibit di kelompok ternak sudah teruji kesehatannya, karena berada di bawah pengawasan pembinaan dari Dinas Peternakan atau Fakultas peternakan serta Fakultas Kedokteran Hewan. Jangan membeli pada keturunan yang telah di silang perkawinannya antara ayam buras dan ayam ras, karena akan memberikan penampilan jelek pada keturunannya.


https://fujitanesia.blogspot.com

Menentukan ayam buras pejantan yang baik adalah:
1. badan kuat, tegap, dan agak panjang,
2. paruh bersih dan mata jernih,
3. licah tetapi tidak agresif,
4. sayap kuat dan bulu rapi,
5. kaki dan kuku bersih serta sisik teratur,
6. taji kuat dan runcing,
7. rajin mencari pakan, dan
8. warna bulu sesuai dengan warna ayam buras.


https://alamendah.org


Menentukan ayam buras betina yang baik adalah:
1. lincah dan aktif mecari makan,
2. cepat dewasa kelamin,
3. paruh pendek dan kuat,
4. jengger dan pial halus,
5. warna bulu sesuai dengan kaidah ayam buras,
6. apabila beranak mampu melindungi anaknya untuk mencari makan,
7. badan tegap dan perut bulat,
8. jarang antara tulang pubis 2 jari,
9. jarak antara tulang dada dan tulang belakang 4 jari.
Dalam akhir-akhir ini ada kecenderungan perubahan konsumsi unggas, terutama di kota-kota besar. Semakin bertambahnya kesadaran akan kesehatan di kelompok masyarakat kelas menengah atas telah muncul sikap kritis dan khawatir adanya antibiotik, hormon, atau bahan kimia dalam tubuh ayam broiler. Kondisi tersebut tersebut terlihat semakin menurunya konsumsi daging ayam broiler per kapita di seluruh dunia. Sebaliknya popularitas ayam kampung semakin meningkat. pasalnya, jenis ayam kampung di percaya di pelihara secara alami tanpa ada rekayasa genetika. maka dari itu menkonsumsi ayam kampung ini sangat baik karena pemberian konsumsi secara alami.


trendburung.blogspot.com

Sebagian besar masyarakat di indonesia belum banyak mengetahui jenis-jenis ayam kampung, ayam kampung yang kita kenal selama ini berasal dari ayam hutan (Gallus varius) yang tersebar di kawasan asia tenggara. Ciri khas ayam kampung antara lain hidup berkeliaran, bergerombol, mencari makan sendiri ataupun sisa-sisa makanan manusia.
Ayam kampung yang disebut sebagai plasma nutfah lokal antara lain ayam kedu (Magelang), ayam sentul (Ciamis), ayam pelung (Cianjur), merawang (Sumatra Selatan, kokok balenggek (Suamatra Barat), ayam nunukan (Kalimatan Timur), Wareg (Banten) ayam Merawang (Bangka Belitung).
Namun pada saat ini sebagian besar ayam kampung yang ada sudah persilangan sehingga sulit untuk memilah ke asliannya. Maka dari itu kita harus menjaga, meletarikan, membudidayakan ayam kampung asli agar tidak punah.
Produksi telur yang di hasilkan jauh lebih rendah dibandingakan ayam petelur ras (Layer). tingkat produksivitas  ayam kampung asli rata-rata 40% pertahun (115-145 butir per ekor/tahun).

       Ada beberapa jenis ayam kampung yang baik untuk di pelihara atau di ternakan dengan pola semi intensifuntuk produksi petelur, pedaging atau keduanya.

Ayam Kedu

www.omkicau.com

Asal ayam kedu adalah ayam asli Pulau Jawa yang di ekspor ke Amerika dan di sebut The black java breed (ayam hitam asal jawa). Populasi terbesar di daerah Temanggung dan Magelang.
Ayam kedua ini terdapat tiga jenis , yaitu ayam kedu hitam (pednaging), ayam kedu putih (petelur) dan ayam kedu berwarna lurik tipe petelur dan pedaging (Dwiguna).
Jenis ayam kedu lain yang sangat terkenal adalah ayam Cemani. Kata Cemani berasal dari bahasa Jawa artinya hitam legam. Seluruh tubuh ayam Cemani ini dari daging, tulang, jengger, pial, paruh, bola mata, lidah, bulu, rongga mulut, kaki dan cakar berwarna hitam.
Secara umum umu ciri khas ayam kedu adalah produktivitas telur yang tinggi serta postur yang besar. Dibanding jenis ayam kampung lainnya, produksi telur ayam Kedu termasuk yang paling tinggi bisa mencapai 215 butir/tahun serta umur bertelurnya lebih cepat, hanya dalam waktu 135-140 hari.

Ayam Sentul

www.fokusjabar.com

Ayam kampung Sentul sekarang ini dijadikan ayam plasma mutfah Jawa Barat ayam ini berasal dari Ciamis dengan ciri khas warna abu-abu yang menonjol. Ada enam jenis ayam sentul, yaitu Sentul Kelabu, Sentul Emas (abu-abu kekuningan), Sentul Geni (abu-abu kemerahan), Sentul Jambe (merah jingga). Ayam Sentul Debu dan Ayam Sentul Batu (abu-abu keputihan). Ayam Sentul  akan lebih baik sebagai ayam pedaging karena produksi telur yang relatif rendah, yaitu hanya 118 butir/tahun. Dalam pemeliharaan pola intensif Ayam Sentul Jantan  berat badan 2 kg dalam waktu 125 hari. Sedangkan untuk betina dewasa posturnya cenderung lebih kecil dan berat badannya hanya mencapai 1,2 kg-1,4 kg.

Ayam Nunukan

www.gadingspe.com

Dilihat dari postur dan penampilannya, tidak ada bedanya Ayam Merawang dengan Ayam Nunukan. Ayam ini sudah lebih dari 80 tahun bekembang di pulau Tarakan dan Pulau Nunukan, Kalimatan Timur. Di pulau Jawa Khususnya kota besar, jenis ayam ini tidak banyak di sukai karena penampilannya hampir mirip dengan ayam ras (layer) yang berwarna coklat agak kemerahan dan ujung ekornya berwarna hitam.Kelebihan ayam ini berat badannya bisa mencapai2,2 kg serta produksi telur sekitar 140 butir/tahun (38%).

Ayam Pelung

www.omkicau.com


Ayam Pelung ini di temukan di Warungkondang, Cianjur pada tahun 1850 oleh KH Djarkasih. Salah satu plasma ternak asli Indonesia ini memiliki ciri khas suara serta bentuk badanya yang leibuh besar dibandingkan ayam kampung lainnya. Ukuran yang besar sangat menunjang untuk memperbaiki pertumbuhan ayam kampung lainnya melalui pesilangan. Berdasar kan penelitian Dr sofyan Iskandar persilangan ayam  pelung asli dengan ayam kampung lain dalam waktu 10 minggu dapat mencapai berat badan rata-rata 0,822 kg dan efisiensi pakan sekitar 2,80. Mayoritas peternak Ayam Pelung lebih menyukai yang jantan, karena suaranya yang khas dan panjang serta posturnya yang besar.

Ayam Merawang
www.dinomarket.com

Ayam Merawang  atau juga di sebut ayam bangka, merupakan plasma nutfah dari provinsi bangka belitung. Jenis ayam ini hampir mirip dengan ayam Nunukan. Karena asalnya yang sama dari daratan Cina. Dibandungkan dengan ayam-ayam lokal lainnya, ayam Merawang mempunyai kelebihan sebagai ayam dwiguna dengan produksi telur yang sangat tinggi. Produksi telur pertahun rata-rata mencapai 164 butir (45%) dan berat badan ayam jantan dewasa sekitar 2 kg dalam waktu lima bulan. Ciri khas ayam ini yang menojol adalah warna keemasan serta warna di bagian ujung sayap dan ekor berwarna hitam (pola bulu columbian). Jantan dewasa ukurannya besar, badan tegak, jengger tunggal pada bagian atas bergerigi.

Ayam Tukong
Ayam Tukong selintas seperti burung puyuh karena bagian bulu ekornya menurun kebawah ayam ini tidak memiliki tulang pankal ekor. Populasi  ayam Tukong di daerah asalnya Kalimatan Barat sudah sedikit sekali bisa di katakan hampir punah. Bentuk fisiknya yang cenderung bulat, namun potensi genetisnya masih dapat di kembangkan.
Luka yang sering timbul pada ayam merupakan hal umum yang diakibatkan oleh manajemen yang kurang baik. Bisa saja karena litter yang basah, ketebalannya tipis dan cage ayam yang kurang memenuhi standar.

Terdapat dua kasus penyakit luka pada ayam

a. Bumble foot
Luka pada bagian bantalan kaki akibat trauma. Kurangnya pasokan litter dan litter yang basah mengakibatkan parahnya kejadian ini. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara menjaga litter agar tetap kering atau mempertebal litter.

http://www.backyardchickens.com/

b. Breast blister (lepuh dada)
Terjadi luka disekitar otot yang memanjang sekitar tulang dada yang disebabkan trauma. Trauma ini terjadi akibat benturan yang terjadi terus menerus antara dada dan litter yang menggumpal atau slat yang kasar. Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga litter tetap kering.

http://www.oardc.ohio-state.edu/

Upaya Pencegahan

- Pastikan litter selalu dibalik dalam waktu tertentu
- Litter yang sudah basah bisa diganti atau ditutup dengan litter baru
- Pastikan tidak ada benda runcing atau benda tajam diarea kandang (seperti seng yang tidak beraturan / besi-besi tajam yang menyebabkan lepuh pada dada ayam
- Kontrol ayam sesering mungkin
- Density sesuai dengan kebutuhan.
Penyakit asal parasit biasanya tidak menyebabkan kematian, tetapi sangat merugikan ayam karena menyita gizi yang di peroleh ayam dan menimbulkan kegelisahan pada ayam. Penyakit yang di sebabkan oleh parasit di kelompokan menjadi dua, yaitu ektoparasit dan endoparasit.

nytimes.com

a. Ektoparasit, adalah parasit yang menempel atau hidup pada tubuh ayam bagian luar.
- Penyebabnya melalui kutu, caplak, tungau, lalat.
- Umur yang diserang; semua umur ayam terutama ayam dewasa
- Gejala klinis;   1. ayam gelisah, sering mematuk-matuk bulu dan tubuhnya
                           2. nafsu makan menurun, kurus
                           3. kaki ayam menebal tidak beraturan dan berwarna putih seperti kapur
- Pencegahan;  1. melakukan sanitasi kandang dan lingkungan
                          2. tidak ada feses menumpuk didalam kandang
                          3. litter jangan sampai basah
- Pengobatan; berikan obat kutu.

b. Endoparasit, adalah parasit yang hidup di dalam tubuh ternak, umumnya berupa berbagai jenis cacing dalam saluran pencernaan.
- Penyebab, ascaridia galli dan heterachis gallinarum yang paling sering menimbulkan masalah
- Gejala cacingan. Ayam menjadi kurus, kadang-kadang mencret, sampai mencret berdarah. Pada serangan cacingan ringan, ayam tampak sehat tetapi produksinya menurun.
- Pencegahan; melakukan sanitasi kandang dan lingkungan
- Memberikan obat cacing.
Cekaman (stress)

http://www.udel.edu/

Cekaman adalah suatu keadaan ketika ayam mengalami ketegangan karena kondisi lingkugan yang tidak nyaman. Cekaman mengakibatkan nafsu makan menurun dan kondisi tubuh lemah. Hal ini dapat mengakibatkan ayam mudah terserang penyakit, pertumbuhan terganggu, serta produksi telur menurun dan akhirnya berhenti.

a. Penyebab
- cuaca/iklim, misalnya hujan lebat, angin besar, udara terlalu panas atau terlalu dingin
- suara, misalnya kebisingan, ledakan, suara kendaraan, dan suara pesawat terbang
- kejutan, misalnya orang asing masuk kandang atau hewan liar
- mekanis, misalnya potong paruh, vaksinasi, pindah kandang dan perjalanan
- makanan, misalnya pergantian pakan serta pakan dan minuman kurang
- kandang yang terlalu padat

b. Pencegahan
Apabila terjadi perubahan cuaca atau setelah perlakuan vaksinasi dan perlakuan lainya, perlu diberikan antistress. Sangat penting diperhatikan untuk pemberian dan dosis perlu disesuaikan dengan pentujuk pada kemasan.
Metode Pemeliharaan DOC

http://en.engormix.com/

Setelah Ayam DOC memasuki kandang yang akan di tempati :
Kondisi tempat dan peralatan yang di gunakan :
- Sekam/ Gabah padi
- Seng/ untuk lingkaran
- Gasolex/ pemanas indukan
- Tabung berisi Gas
- Feeder/ tempat pakan
- Drinker/ tempat minum
- Selang untuk mengaliri gas
- Legulator/ pengatur aliran gas
- Penjepit untuk penyanga lingkaran chickguard

Pembuatan Lingkaran (chickguard) tempat untuk tinggal DOC pada hari pertama

http://en.engormix.com/


Isi 1 lingkaran, jumlah DOC sekitar
- 1 Lingkaran berbanding 800 ekor DOC
- Perbandingan tempat minum 1 berbanding 133 ekor DOC
- Perbandingan tempat pakan 1 berbanding 88 ekor DOC

Cara Aktifitas Pekerja memelihara DOC
  • Sebelum masuk ke dalam kandang DOC, pekerja harus melewati beberapa tahap sterilisasi memakai baju (kostum) yang bersih dan kering.
  • Sebelum masuk kaki di celupkan terlebih dahulu di bak yang sudah di isi air dan desinfektan.
  • Memakai masker demi menyaring udara yang ada di dalam kandang
  • Mengecek suhu lingkungan (di dalam kandang) mengunakan thermometer yang sudah di siapkan di dalam lingkaran (chickguard)
  • Menyalakan gas solek/pemanas indukan (brooder) yang posisinya ada di atas/tengah-tengah yang tinggi nya 1 m  
  • Memberikan ransum/pakan kedalam nampan secukupnya, disesuaikan dengan usia ayam. Jika terus habis di anjurkan untuk di tambah lagi volume pemberian ransumnya.
  • Memberi air minum yang sudah di cuci tempat minumnya (drinker) mengunakan sarung tangan
  • Pemberian air dengan cara menuangkan air secara perlahan dan berulang kali sampai penuh dan terjangkau oleh DOC
  • Suhu di dalam lingkaran sekitar 30-32


Semakin siang matahari semakin panas, dan gasolek/brooder bisa di kecilkan secara berkala dengan cara memutar knop tabung gas

Pemberian Air minum dan Ransum/harinya
  • Air di berikan 3x perhari secukupnya, dan air harus di steril dari bakteri apapun. 
  • Kemudian air yang di berikan mulai hari pertama di campur dengan  obat yang di butuhkan oleh DOC
  • Ransum di berikan 3x perhari di tambah penambahan waktu malam pukul 09:00
  • Air kotor harus di ganti dan di tambah dengan yang baru. Mengingat air yang ada di galon tempat air minum sangat minim dan kotor
Waktu pemberian Air minum dan Ransum di lakukan :
Jam 4 pagi 1x
Jam 7 pagi 1x
Jam 1 siang 1x
Jam 3 sore 1x dan
Jam 9 malam 1x

Pemberian Air dan Ransum dilakukan dengan cara cepat dan akurat dengan tujuan, supaya pertumbuhan ayam seragam dan merata, dengan meminum dan memakan ransum di waktu yang bersamaan
Air dan Ransum tidak di anjurkan untuk berceceran dan tumpah di dalam Lingkaran ke atas sekam/liters
Jika sekam/liters basah, maka harus di ambil dan di ganti oleh sekam/liters yang ada di luar lingkaran yang sudah di sterilkan oleh Desinfektan
Air dan Ransum tidak untuk di batasi dalam pemberiannya
DOC harus selalu bangun/di bangunkan di waktu usia 1 sampai 3 hari, untuk mengganti selaput telur/yolk  yang ada di dalam perut ayam, dengan Ransum yang berisi nutrisi, karbohidrat, lemak, protein dan bahan-bahan yang terkandung di dalam Ransum
Usia dari 1-3 pemanas harus tetap stabil agar DOC tetap mendapat penghangatan yang merata
Contoh Gambar :





Sistem Penerangan
Dalam satu kandang sangat di butuhkan penerangan yang sangat memadai
Contoh :
1 pen/flok dengan ukuran kandang per flok 100 m2 itu di perlukan 4-5 penerangan.

Lampu berwarna putih? kenapa demikian?
Karena system penerangan di usia 1-30 hari sangat dibutuhkan guna untuk aktifitas ayam pre starter demi memenuhi dan meningkatkan uniformitynya.
Penerangan ini di sarankan memakai Lampu yang berwarna terang, adapun untuk usia 12-17 minggu, di anjurkan penerangan mengunakan Lampu Redup yang berwarna kuning.
Kemudian usia Grower penerangan di lanjutkan menggunakan lampu berwarna kuning Redup dan pada usia 17-18  Prelayer itu bisa dilakukan penerangan mengunakan lampu yang berwarna Hijau Redup. Kegunaannya yaitu agar Ayam yang di terangi oleh lampi yang berwarna Hijau Redup itu bisa diam dan tidak beraktifitas di waktu malam dan gelap tiba.


Kanibalisme Pada Ayam


Kanibalisme merupakan salah satu penyakit alamiah/kebiasaan pada ayam di usia 8-10 minggu. Adapun factor penyebabnya adalah :


http://www.backyardchickens.com/



  •  Kekurangan air minum (Air bersih)

Air yang sedikit dan kotor akan memicu ayam Starter-Grower (S.G) akan melakukan kanibalisme,     karena Ayam merasa kehausan.

  •  Kekurangan Ransum (Pakan)

Ransum yang tersedia di nampan sangat minim akan memicu Ayam tersebut melakukan kanibalisme terhadap temannnya itu sendiri, Ayam (S.G) akan merasa jenuh, jika pakan yang  tersedia sedikit dan tercampur kotoran dan sekam.

  •  Suhu/Cuaca

Suhu/Cuaca juga menjadi salah satu faktor, karena pada suhu tinggi (panas) kanibal akan terjadi pada ayam karena rasa haus menjadi pemicunya.
Tumbuhnya bulu di bagian Ekor yang berwarna putih. Sehingga warna putih itu di anggap menjadi makanan Ayam.

Pengaruhnya :
- Ayam akan merasa kesakitan pada waktu pendarahan di bagian yang di patuk temannya
- Ayam akan diam dan pasif, sehingga cenderung akan mati secara cepat
- Setelah satu ekor ayam yang terkena kanibal, maka yang lain akan menjadi korban berikutnya

Solusinya :
- Pisahkan ayam yang mengalami Pendarahan
- Semprotkan obat kanibal pada tubuh yang mengalami pendarahan
- Pisahkan ayam yang mengalami pendarahan dengan yang sehat
- Periksa/cek ulang untuk memastikan ayam tersebut, yang berada di beberapa kandang itu aman dari   serangan kanibal lainnya
- Pemberian pakan dan minum harus akurat dan cukup bagi ayam yang terkena kanibal
- Buka layar tiap samping agar suhu/udara yang ada di dalam kandang akan mengalami perubahan       dan sirkulasi udara menjadi lancar.
Potong Paruh (Debeaking)

http://freefromharm.org

Potong paruh adalah salah satu program DOC yang harus di laksanakan. Ayam yang akan di potong paruh harus berkisar usia 6-10 minggu, karena ayam di bawah usia 6 minggu ayam sangat rentan terhadap penyakit, potong paruh bias di lakukan 1 sampai 2 hari, potong paruh bisa di lakukan pada usia 1 hari dari penetasan dan bisa berlaku apabila potong paruh di perlukan lagi.

Akibat potong paruh

Positifnya :
a. Ayam tidak mengalami kanibalisme, karena apabila ayam mematuk temannya tidak akan berdarah
b. Pola makan ayam yang telah di potong paruhnya akan terus meningkat, karena setiap kali ayam mengambil ransum akan lebih banyak jumlahnya di bandingkan sebelum potong paruh.

Negatifnya :
a. Ayam mengalami stress
b. Jumlah ransum yang di makan akan menurun sesuai dengan kebutuhan kandang
c. Ayam keseluruhannya dan terlihat murung atau pun mengalami dehidrasi
d. Penyembuhan ayam akan lama

Aturan Pemotongan
Adapun aturan pemotongan paruh sebagai berikut :
Pemotongan Paruh pada ayam hanya ¼ saja.


http://www.nzdl.org

Dari gambar di atas merupakan salah satu tempat dan cara dimana posisi pisau pemotong paruh tepat berapada di ujung ¼ paruh ayam.
Menurut teorinya pisau pemotong paruh. Harus di ganti setelah 1000 ekor ayam (Pemakaiannya).
Setelah ayam di potong paruh harus sesegera mungkin Ayam di beri obat dan vitamin guna untuk Merangsang daya nafsu makan.

Selain itu potong paruh harus dilakukan secara cepat dan tepat guna untuk menyesuaikan pemerataan kondisi ayam
Potong paruh tidak menutup kemungkinan ayam tersebut bisa mati karena kekurangan darah yang keluar terus menerus.

Contoh gambar mesin potong paruh

http://alatternakunggas.com

Pada bagian mata pisan haruslah merah membara, karena paruh ayam yang di potong hasilnya akan merata.
http://www.fwi.co.uk/

Program vaksinasi merupakan salah satu cara yang paling sering digunakan untuk mencegah timbulnya penyakit di suatu kawasan ayam.

A. Tipe Vaksin
1. Vaksin virus hidup (live vaccine)
Virus dalam vaksin masih hidup dan memiliki kemampuan yang lengkap untuk menghasilkan kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit sehingga bisa menyangkal penyakit yang menyerang tubuh ayam.

2. Vaksin yang dilemahkan (attenuated vaccine)
Vaksin dibuat dengan cara melemahkan organisme aktif, sehingga ketika diberikan kepada ayam akan menghasilkan kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dalam bentuk yang lebih ringan

3. Vaksin yang dimatikan (killed vaccine)
Organisme yang digunakan untuk menghasilkan vaksin telah dimatikan dan tidak memiliki kemampuan untuk menularkan penyakit kepada ayam. Namun memiliki kemampuan untuk memproduksi antibodi ketika vaksin digunakan.

B. Cara Melakanakan Vaksinasi
1. Tetes mata (Intra Occular)
2. Tetes hidung (Intra Nassal)
3. Melalui mulut (cekok/oral)
4. Suntik daging (Intramuscular)
Vaksinasi dilaksanakan dengan cara menyuntikkan vaksin kedalam daging, biasanya bagian dada atau paha. Vaksin yang di suntikan bisa berupa vaksin live atau vaksin killed.
5. Suntik bawah kulit (Subcutanneos)
    Vaksin di lakukan dengan cara menyutikan vaksin di bawah kulit, biasanya disekitar leher.
6. Melalui Air Minum (Dringkin water)
7. Penyemprotan (Spray)
8. Tusuk Jarum (Wing web)
9. Melalui Pakan (feeding)

c. Faktor-faktor yang harus diperhatikan saat Melaksanakan Vaksinasi
1. Kondisi ayam
2. Jadwal Vaksin
3. Laporan Kegiatan Vaksin

d. Menghidari faktor-faktor yang bisa mematikan vaksin
1. Sinar matahari
2 Panas, dengan berbagai sebab
3. Detergen dan desinfektan
4. Cara pencampuran tidak teratur
5. Pelaksanaan vaksinasi tidak sesuai prosedur
6. Penyimpanan tidak sesuai dengan rekomendasi produsen vaksin

e. Perlakuan Pasca Vaksinasi
1. Memberikan vitamin selama 3-5 hari, tergantung kondisi ayam
2. Memusnahkan bekas vaksin. Botol atau bekas vaksin lainnya di rebus atau di bakar
Inseminasi buatan (IB) pada unggas secara luas digunakan untuk mengatasi kesuburan rendah pada kalkun komersial, yang dihasilkan dari kegagalan perkawinan sebagai konsekuensi besar, burung berotot tidak mampu secara fisik menyelesaikan proses kawin. Ini adalah masalah serius dalam produksi penetasan telur kalkun komersial. Pada kebanyakan sistem produksi ayam komersial di Amerika Serikat, belum perlu untuk melaksanakan program-program IB karena hasil kawin alami di tingkat kesuburan memadai, tapi IB secara rutin digunakan dalam pekerjaan pemuliaan khusus dan penelitian.

http://agritech.tnau.ac.in/

Namun, seperti mengelola peternak broiler komersial untuk memaksimalkan kesuburan menjadi lebih menantang, penggunaan IB dalam operasi unggas komersial di luar Amerika Serikat menjadi lebih umum. Tentu saja, penggunaan IB pada ayam, seperti di kalkun, dapat meningkatkan kesuburan. Namun, biaya pelaksanaan IB dalam skala besar sering memakan biaya yang cukup mahal.

Mengumpulkan semen dari ayam atau kalkun dilakukan dengan merangsang organ kelamin (lingga) untuk menonjol dengan memijat perut dan punggung atas testis. Hal ini diikuti dengan cepat dengan mendorong ekor maju dengan satu tangan, dan pada saat yang sama menggunakan ibu jari dan jari telunjuk dari tangan yang sama untuk menerapkan tekanan di daerah dan untuk "susu" semen dari saluran organ tersebut. Tanggapan aliran air mani lebih cepat dan lebih mudah untuk merangsang pada ayam dibandingkan kalkun. Air mani dapat dikumpulkan dengan aspirator (kalkun) atau dalam tabung kecil atau wadah cup-seperti. Pada kalkun, rata-rata volume yang dihasilkan sampai 0,35-0,5 mL dengan konsentrasi spermatozoa dari 6 sampai 8 miliar / mL.

Untuk ayam, volumenya bisa 1-2 kali dari kalkun, tetapi konsentrasinya sekitar satu setengah. Semen yang dikumpulkan biasanya diencerkan dengan ekstender sebelum digunakan. Semen ayam dan kalkun mulai kehilangan kemampuan pemupukan bila disimpan 1 jam. Cairan dingin (4 ° C) penyimpanan semen kalkun dan ayam dapat digunakan untuk mengangkut semen dan mempertahankan kelangsungan hidup spermatozoal untuk kurang lebih 6-12 jam.

Penyimpanan jangka pendek dari semen biasa terjadi pada kalkun, sementara umumnya tidak pada ayam. Bila menggunakan cold storage cair untuk 1 jam, semen kalkun harus diencerkan dengan air mani extender minimal 1:1 dan kemudian gelisah perlahan (150 rpm) untuk memfasilitasi oksigenasi; semen ayam harus diencerkan dan kemudian didinginkan (agitasi tidak diperlukan). Semen ayam dan kalkun dapat dibekukan, tetapi mengurangi kesuburan batas penggunaan untuk proyek peternakan khusus. Dalam kondisi eksperimental, tingkat kesuburan  dalam ayam 90% telah diperoleh, diinseminasi pada interval 3 hari dengan 400-500000000 beku-thawing ayam. Beberapa semen komersial extender tersedia dan secara rutin digunakan, terutama untuk kalkun.

Extender memungkinkan kontrol yang lebih tepat atas dosis menyuntikkan dan memfasilitasi pengisian tabung. Hasil mungkin sebanding dengan mereka yang menggunakan semen murni ketika arah produk diikuti. Dilusi harus menghasilkan dosis inseminasi mengandung sampai 300 juta spermatozoa untuk kalkun. Namun, jumlah spermatozoa diinseminasi akan berkisar 150-300 juta sel layak tergantung pada usia ayam kalkun yang hendak diinseminasi. Pada ayam, jumlah semen yang diencerkan diinseminasi akan berkisar dari ~ 100-200000000 sel sperma per inseminasi. Produsen biasanya menentukan konsentrasi spermatozoa dan mengencerkan semen untuk mendapatkan konsentrasi sel sperma yang tepat baik untuk kalkun atau ayam.

Untuk inseminasi, ketika memegang ayam tegak, tekanan diterapkan ke perut di sekitar ventilasi, terutama pada sisi kiri. Hal ini menyebabkan kloaka untuk Evert dan saluran telur agar menonjol, sehingga jarum suntik atau plastik jerami dapat dimasukkan sampai 2,5 cm ke dalam saluran telur dan jumlah yang sesuai dari semen disampaikan. Seperti air mani dikeluarkan oleh inseminator itu, tekanan di sekitar ventilasi dilepaskan, yang membantu ayam dalam mempertahankan sperma di vagina atau saluran telur. Ketika menyuntikkan semen kalkun murni, konsentrasi sel sperma yang tinggi memungkinkan untuk 0.025 mL (~ 2 miliar spermatozoa) yang akan diinseminasi secara berkala dari 7-10 hari, menghasilkan kesuburan optimal.

Untuk ayam, karena konsentrasi yang lebih rendah spermatozoon dan durasi yang lebih singkat dari kesuburan, 0,05 mL air mani dikumpulkan murni, dengan interval 7 hari, diperlukan. Perilaku jongkok di ayam menunjukkan penerimaan dan waktu untuk inseminasi pertama. Untuk kesuburan maksimal, inseminasi dapat dimulai sebelum oviposisi awal pada kalkun, sedangkan hal ini tidak diperlukan pada ayam. Fertilitas cenderung menurun, oleh karena itu, dapat dibenarkan untuk membuahi lebih sering atau menggunakan lebih banyak sel per dosis inseminasi usia ayam.
Berdasarkan keterlibatan manusia dalam pengelolaannya, sistem pemeliharaan ternak unggas digolongkan menjadi 3 sistem, yaitu:

1) Sistem Ekstensif
Sistem pemeliharaan ekstensif artinya ayam dipelihara di suatu kandang umbaran yang luas dan menjadi tempat ayam melakukan segala aktivitasnya. Kebutuhan pakan hampir seluruhnya diperoleh dari padang umbaran, berupa tanaman hijauan dan serangga. Pakan tambahan hanya sebagian kecil. Padang umbaran hanya dilengkapi dengan tempat naungan untuk berteduh serta menghindari hujan dan panas, tidak ada kandang secara khusus.

http://www.fwi.co.uk/

*Keuntungan sistem ekstensif
- Biaya tenaga kerja rendah
- Biaya pakan lebih rendah
- Baik pengguna untuk dipelihara ayam pembibit

*Kerugian sistem ekstensif
- biaya pengadaan lahan sangat tinggi
- beresiko tinggi terhadap terjangkitnya wabah penyakit
- tidak baik untuk pemeliharaan ayam muda
- tidak efesien untuk pemeliharaan petelur dan pedagimg

2) Sistem Semi-Intensif
Pada sistem ini ayam dipelihara di padang umbaran yang terbatas. Kandang disediakan untuk memenuhi sebagian besar kebutuhannya. Padang umbaran hanya untuk melakukan exercise, berjemur dan mencari pakan tambahan.

http://tclocal.org/

3) Sistem Intensif
Untuk sitem intensif, pemeliharaan fokus dilakukan di dalam kandang dari awal ayam masuk kandang hingga afkir/dipanen. Sistem ini biasanya dilakukan khusus untuk ayam seperti broiler dan layer (petelur) karena kedua jenis ayam tersebut sangat mudah stress jika dibiarkan di luar kandang. Semua kegiatan pemberian pakan, minum, dan vaksinasi dilakukan didalam kandang tanpa dibiarkan keluar.

http://en.wikipedia.org/

*Keuntungan sistem intensif
- Ayam termonitor
- Pemberian pakan dan air minum serta vaksinasi mudah
- Ayam sepenuhnya terawasi petugas kandang
- Kegiatan produksi mudah

Setelah dirangkum, sistem pemeliharaan intensif cukup baik jika dibandingkan sistem pemeliharaan lainnya tidak terkecuali untuk peternak ayam di Indonesia juga banyak yang menggunakan sistem intensif karena mudahnya mengelola ayam tanpa harus memikirkan resiko tinggi.
Organ reproduksi ayam jantan terdiri dari sepasang testis (T), epididimis (Ep), dektus deferens (D.d) dan organ kopulasi pada kloaka (CI), secara lengkap ditunjukkan oleh Nesheim et al. (1972) pada gambar berikut:

Organ reproduksi dan urinari pada ayam jantan (Nesheim et al, 1979)

Testis
Testis berjumlah sepasang terletak pada bagian atas di abdominal kearah punggung pada bagian anterior akhir dari ginjal dan berwarna kuning terang. Pada unggas testis tidak seperti hewan lainnya yang terletak di dalam skrotum (Nesheim et al., 1979). Fungsi testis menghasilkan hormon kelamin jantan disebut androgen dan sel gamet jantan disebut sperma (Nalbandov, 1990)

Epididimis 
Epididimis berjumlah sepasang dan terletak pada bagian sebelah dorsal testis. berfungsi sebagai jalannya cairan sperma ke arah kaudal menuju ductus deferens.

Duktus deferens/ pas deferens
Jumlahnya sepasang, pada ayam jantan muda kelihatan lurus dan pada ayam jantan tua tampak berkelok-kelok. Letak ke arah kaudal, menyilang ureter dan bermuara pada kloaka sebelah lateral urodeum. Fungsinya menyalurkan sperma ke kopulasi

Organ kopulasi
Pada unggas duktus deferens berakhir pada suatu lubang papila kecil yang terletak pada dinding dorsal kloaka. Papila kecil ini merupakan rudimeter dari organ kopulasi  (Nesheim et al., 1979). Fungsi kopulasi : alat untuk mengeluarkan sperma.

Fertilisasi
Fertilisasi merupakan suatu proses  penyatuan atau fusi dari dua sel gamet yang berbedea, yaitu sel gamet jantan dan betina untuk membentuk satu sel yang disebut zygote. Secara embriologik fertilisasi merupakan pengaktifan sel ovum oleh sperma dan secara genetik merupakan pemasukan faktor-faktor hereditas pejantan ke ovum (Toelihere,1985).

Fertilisasi pada ayam (Nuryati et al, 1998)

Hanya beberapa lusin sel sperma yang dapat mendekati ovum dan hanya beberapa sperma yang bisa masuk ke dalam zona pelusida yang akhirnya hanya satu buah sperma yang bisa membuahi ovum  (Nalbandov, 1990) Begitu pula pada unggas, setelah terjadi perkawinan sperma akan mencapai infundibulum dan akan menembus membran vitelina ovum untuk bertemu sel benih betina, sehingga terbentuk calon embrio. Telur yang di buahi di sebut telue fertil dan telur yang tidak dibuahi disebut telur konsumsi (Nuryati et al, 1998)

Perkawinan alami pada ayam (Nurhayati et al, 1998)

Irama Bertelur
Irama bertelur merupakan suatu proses yang melibatkan sistem hormon dan sistem syaraf karena adanta variasi panjang siang dan malam yang mempengaruhi sistem syaraf sehinggga mengakibatkan pelepasan hormon untuk merangsang terjadinya ovulasi. Ovulasi merupakan suatu proses yang peting untuk suatu awal produksi telur (Nesheim et al., 1979)

Pengaruh Cahaya Terhadap Peneluran 
Manajemen pengaturan cahaya sangat mempengaruhi proses integral dalam produksi telur. Pengaturan pemberian cahaya dalam manajemen ayam petelur dengan waktu 12 sampai 14 jam dalam satu hari yang tebagi menjadi waktu gelap dan waktu terang, mengingat ayam mempunyai sifat sangat sensitif terhadap waktu penyinaran. Waktu penyinaran ini mempengaruhi sifat mengeram, dewasa kelamin, periode bertelur, produksi telur dan tingkah laku sosial perkawinan  (Nesheim et al, 1979). 

Penerimaan cahaya pada ayam akan mengakibatkan rangsangan terhadap syaraf pada syaraf optik, yang dilanjutkan oleh syaraf reseptor ke hipothalamus untuk memproduksi hormon releasing factor selanjutnya merangsang pituitaria pars anterior untuk menghasilkan FSH dan LH. HRS juga merangsang pituitaria pars anterior untuk menghasilkanoksitosin (Nesheim et al, 1979).
Hasil sekresi komponen telur tersebut akan mengakibatkan terjadinya perkembangan telur pada oviduk, sehingga dihasilkan telur utuh di dalam oviduk setelah didahului proses ovulasi (Nalbandov, 1990).

Proses pembentukan komponen telur di dalam oviduk berlangsung dengan adanya hormon estrogen, juga terjadi pembentukan granula albumen oleh stimulasi dari hormon androgen dan progesteron sampai tercapai telur sempurna (Nalbandov, 1990). Setelah telur sempurna, maka pituitaria pars anterior akan mensekresikan oksitosin yang meragsang oviduk sehingga terjadi ovoposition dan merangsang uterus untuk mengeluarkan telur pada proses peneluran (Nesheim et al, 1979).

Siklus irama bertelur

Ayam bertelur dengan irama bertelur, yaitu bertelur satu atau lebih pada hari berurutan dan kemudian diikuti satu hari istirahat. Ayam bisa bertelur lima butir atau lebih dalam satu irama bertelur atau disebut clutch (Nalbandov, 1990).

Ovulasi biasa terjadi pada siang hari, terutama pada jam-jam pagi dan jarang terjadi setelah jam 15.00. Telur setelah ovulasi , sekitar 3,5 jam berada di magnum untuk mendapatkan selubung albumen, 1,25 jam di itsmus dengan terbentuk membran kerabang dan 21 jam di uterus untuk terbentuknya kerabang keras. Sehingga secara total dibutuhkan 25 sampai 26 jam untuk waktu pembentukan telur. Ovulasi berkut pada 
Pola tingkah laku ayam (etologi ayam) pada umumnya sama, yaitu mudah kaget, ketakutan, dan berusaha untuk melarikan diri menjauh dari objek yang mendatanginya, bahkan mereka tidak jarang melukai dirinya dengan mengepakkan sayap, lari, dan terbang bertabrakan dengan sesamanya. Adapula yang mematuk bahkan menyerang objek yang dianggap meresahkan dirinya. Tingkah laku ini diturunkan dari tetuanya dalam upaya mempertahankan diri dari pemangsa ketika mereka masih hidup liar.

1. Tingkah laku reproduksi


http://www.poultryhub.org/

Ketika ayam betina hendak bertelur, mereka gelisah mencari tempat yang nyaman untuk bertelur. Selain itu dapat dilihat sifat menyerang ketika induk ayam sedang mengasuh anak-anaknya. Perilaku bertelur dan mengeram ayam lokal juga sering terjadi menggunakan sarang yang sama dengan induk yang lain. Tingkah laku seperti ini tentunya sangat mengganggu ayam yang sedang bersarang. Sifat berlaga pada ayam jantan masih sering terlihat ketika mereka saling berhadapan, terutama pada ayam yang belum saling mengenal. Ayam betina pun demikian.

2. Tingkah laku dominasi hierarki


http://www.backyardchickens.com/

Ayam terkadang menjadi lebih agresif ketika berhadapan dengan individu yang dianggapnya lebih lemah atau lebih kecil. Hubungan antar individu yang berusaha menghindari perkelahian (sub-ordinat) dengan individu yang agresif (dominan) disebut dominasi sosial. Hubungan seperti ini terjadi dalam suatu kelompok yang dinamakan dominasi hierarki atau alur pematukan sesama (peck order). Dalam dominasi hierarki, ayam yang paling dominan suka mematuk ayam sub-ordinat, kemudian ayam sub-ordinat suka mematuk pula ayam yang lebih rendah dari statusnya, begitu seterusnya. Pada tingkatan ayam yang paling bawah akan mendapat patukan dari hampir semua ayam yang diatas dari hierarki tersebut. Pada kelompok ayam yang sudah saling mengenal, biasanya mereka tidak begitu agresif. Tingkah laku mematuk ini memberikan beberapa pertimbangan seperti luas kandang yang harus disediakan sehingga ayam sub-ordinat dapat melarikan diri menghindar dari patukan ayam dominan.

3. Tingkah laku penyerangan


http://www.chooks.co.nz/

Tingkah laku antara individu ayam dalam suatu kelompok yang menyerupai penyerangan (aggresion) adalah pematukan bulu (feather pecking). Patuk bulu ini mirip dengan gerakan makan, yaitu bulu dari salah satu ayam dipatuk oleh ayam lain dan dicabut bahkan kadang-kadang sampai dimakan. Pencabutan bulu seperti ini akan mengakibatkan pendarahan pada pangkal bulu dan darah yang terlihat sangat menarik ayam yang lain, sehingga beramai-ramai mematuk dan memakan darah dari ayam yang tercabut bulunya. Kejadian patuk bulu ini paling sering terjadi di bagian ekor. Ada lima tipe patuk bulu, yaitu:
1. Pematukan agresif
2. Pematukan pelan-pelan tanpa mencabut bulu
3. Pematukan intensif hingga terjadi pencabutan bulu
4. Penggundulan bulu
5. Pematukan ekor

4. Tingkah laku terhadap suhu kandang


http://www.cobb-vantress.com/

Sebagai respon pada suhu kandang, anak ayam akan bergerombol untuk menghangatkan tubuh apabila suhu ruangan dibawah suhu nyaman dan akan mencoba memisahkan diri dari gerombolan apabila suhu ruangan terlalu hangat. Apabila disediakan sumber pemanas dalam kandang dan suhu terlalu hangat, maka anak ayam akan menjauh dari sumber pemanas serta akan bergerombol mendekat apabila suhu ruangan mulai dingin. Sementara untuk ayam muda dengan bulu penutup tubuh yang lebih sempurna dan suhu ruangan melebihi suhu nyaman maka akan menjauhkan diri dari kerumunan. Bertambah lebatnya bulu penutup tubuh ayam maka ayam semakin kuat untuk melindungi diri dari udara dingin. Sedangkan untuk mempertahankan tubuh dari cekaman panas, ayam akan bernapas terengah-engah (panting) dengan menurunkan kedua sayap dan berusaha mencari tempat yang jauh dari sumber panas.
Sistem reproduksi ayam betina terdiri dari ovarium & oviduk. Ovarium yang mengandung sekitar 1000-3000 folikel dan di dalam folikel terdapat kuning telur (yolk). Ukuran folikel berkisar dari yang mikroskopik hingga besarnya seperti yolk, tergantung pada tingkat kemasakan yolk didalamnya. Setelah sebuah yolk diovulasikan, kemudian ditangkap oleh infundibulum dan melewati bagian-bagian lain seperti magnum, isthmus, uterus, vagina, lalu keluar dari kloaka menjadi telur yang sempurna.

http://poultrykeeper.com/

Ovarium adalah tempat sintesis hormon steroid seksual, gametogenesis, dan perkembangan serta pemasakan kuning telur (folikel). Oviduk adalah tempat menerima kuning telur masak, sekresi putih telur, dan pembentukan kerabang.

a. Infundibulum/ papilon
Panjang  9 cm fungsi untuk menangkap ovum yang masak. Bagian ini sangat tipis dan mensekresikan sumber protein yang mengekikingi membran vitelina. Kuning telur berada di bagian ini berkisar 15-30 menit. Pembatasan antara infundibulum dan magnum dinamakan sarang spermatozoa sebelum terjadi pembuahan.

b. Magnum
Bagian yang terpanjang dari oviduk (33cm). Magnum tersusun dari glandula tubiler yang sangat sesibel. Sintesis dan sekresi putih telur terjadi disini. Mukosa dan magnum tersusun dari sel gobelet. Sel gobelet mensekresikan putih telur kental dan cair. Kuning telur berada di magnim untuk di bungkus dengan putih telur selama 3,5  jam.

c. Isthmus
mensekresikan membran atau selaput telur. Panjang saluran isthmus adalah 10 cm dan telur berafa di sini berkisar 1 jam 15 menit sampai 1,5 jam. Isthmus bagian depan yang berdekatan dengan magnum berwarna putih, sedangkan 4 jam terakhir dari isthmus mengandung banyak pembuluh darah sehingga memberikan warna merah.

d.Uterus
Pada bagian ini terjadi dua fenomena, yaitu dehidrasi putih telur atau (plumping) kemudian terbentuk kerabang (cangkang) telur.

e. Vagina 
Bagian ini hampir tidak ada sekresi di dalam pembentukan telur, kecuali pembentukan kutikula. Telur melewati vagina dengan cepat, yaitu sekitar 3 menit, kemudian di keluarkan (oviposition) dan 30 menit setelah peneluran akan kembali terjadi ovulasi.

f. Kloaka
Ini salah satu penyebab mengapa ayam tidak mampu bertelur lebih dari satu butir/hari. Disamping itu, saluran reproduksi ayyam betina berdifat tunggal. Artinya, hanya oviduk bagian kiri yang mampu berkembang . Padahal, ketika ada benda asing seperti yolk (kuning telur) dan segumpal darah, ovulasi tidak dapat terjadi. proses pengeluaran telur diatur oleh hormon oksitosin dari pituitaria bagian belakang.
Kandang juga harus di lengkapi dengan peralatan, seperti tempat pakan, tempat minum, alat pemanas, alat penerangan, dan alat sanitasi atau kebersihan. 

http://indonetwork.co.id/

Peralatan yang akan di gunakan sebaiknya memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut.
1. Tepat guna, berarti peralatan yang akan digunakan di kandang harus berguna dan bermafaat bagi ayam, baik jumlah,kegunaannya, cara pakai, atau nilai ekonomisnya.
2. konstruksinya sederhana agar pengunaan dan peralatannya lebih mudah.
3. Tahan lama.
4. Biaya murah, tetapi tidak berarti kita harus membeli peralatan tersebut berkualitas dan tahan lama, sehingga bisa dipakai beberapa periode.
5. Dapat di pindah-pindahkan.
6. Mudah di bongkar pasang
7. Bersifat aman bagi ayam dan karyawan
8. Dapat mengurangu tenaga kerja. Jika tenaga kerja sukar di peroleh atau pembayarannya terlalu tinggi, sebaiknya perlatan digunakan berupa automatic drinker atau automatic feeder.

Penyediaan tempat pakan dan minum harus disesuaikan dengan umur ayam dan sistem pemeliharaannya. Umur ayam yang beda membutuhkan ukuran dan bentuk tempat pakan dan minum yang berbeda pula. Demikian pula pada sistem pemeliharaan dengan kandang litter akan berbeda pengunaan perlatan kandang dengan kandang litter akan berbeda pengunaan perlatan kandang dengan sistem pemeliharaan kandang battery.

a. Tempat pakan dan tempat minum
Pada sistem kotak cage, satu cage sudah di lengkapi dengan tempat pakan dan minum, sedangkan pada sistem litter semua fasilitas berada di dalam kandang.

b. Chick guard/ lingkaran pelindung
Chick guard bisa terbuat dari seng, layar, karung, triplek, atau boks bekas doc. Namun pelindung yang baik terbuat dari seng. Lingkaran pelindung dibuat dengan tinggi 45-50 cm dan diameter 2,75-4m. Diameter yang di buat berdasarkan kapasitas pemanas dan jumlah doc.

c. Alat -alat rutin
Alat-alat rutin yang kerap digunakan untuk pemeliharaan ayam broiler antara lain alat-alat kesehatan ayam, ember untuk mengangkat makanan, ember untuk mencuci tempat minum anak ayam, sendok atau ciduk ransum, serta alat-alat yang di butuhkan pegawai

d. Indukan atau brooder
Alat ini berbentuk bundar atau persegi empat dengan areal jangkauan sekitar 1-3 m dengan alat pemanas di bagian tengah. Alat ini di sebut juga indukan buatan karena fungsinya menyerupai indukan ayam, yakni menghangatkan anak ayam ketika baru menetas. Alat ini di perlukan terutama pada kandang indukan saat pemeliharaan anak ayam umur 1 hari sampai 2-3 minggu, tergantung kondisi pertumbuhan anak ayam, temperatur lingkungan, dan musim.

e. Lampu penerangan
Lampu penerangan disefiakan untuk penerangan pad malam hari. Pemberiannya disesuaikan dengan program, terutama pad pemeliharaan untuk ayam petelur. Hal ini disebabkan cahata sangat mempengaruhi perkembangan organ reproduksi dan proses reproduksi.
Kandang sebagai tempat tinggal ternak mempunyai fungsi dan tipe berbeda-beda.

1. Fungsi kandang
kandang dalam pemeliharaan ternak unggas secara intensif dibedakan menjadi 2 fungsi, yaitu fungsi primer dan fungsi sekunder.

a. Fungsi Primer
secara makro, kandang berfungsi sebagai tempat tinggal bagi ungas agar terlindungi dari pengaruh-pengaruh buruk iklim (hujan,panas, dan angin) serta gangguan lainnya (hewan liar atau hewan buas dan pencurian). Secara mikro, kandang berfungsi menyediakan lingkungan yang nyaman agar ternak terhindar dari cekaman (stress).

b. Fungsi Sekunder
Kandang berfungsi sebagai tempat bekerja bagi peternak untuk mengendalikan kebutuhan ternak sesuai dengan tujuan pemeliharaan (sebagai pembesaran, pedaging, petelur, atau pembibit).
Berdasarkan fungsi tersebut, pembangunan kandang harus memperhatikan tiga faktor penting, yaitu :
1. Faktor biologis ternak.Berkaitan dengan aspek lingkungan dan respon ternak terhadap lingkungan secara fisiologis yang akan dimanifestasi dalam bentuk performa produksi.
2. Faktor teknis/ engineering. Berkaitan dengan aspek teknis bangunan, meliputi kontruksi bangunan, bahan, dan tata letak bangunan.
3. Faktor ekonomis. Berkaitan dengan aspek biaya dan efisiensi pengunaan bangunan.

http://www.wishfulthankingfarm.com/

Selain harus memperhatikan ketiga faktor di atas, pembagunan kandang juga perlu mempertimbangkan modal, skala pemeliharaan, iklim setempat, luas tanah,tujuan pemeliharaan, teknologi yang diterapkan, keterampilan pekerja, dan selera pemilik.

2. Tipe-tipe Kandang
Tipe kandang dapat dibedakan berdasarkan beberapa faktor sebagai berikut.
1. Kontruksi, meliputi
  a. Kontruksi atap
  b. Kontruksi dinding
  c. Kontruksi lantai
2. penempatan ayam dalam kandang
3. Fase pemeliharaan ayam

1. Kontruksi
 a. Kontruksi atap
 Terdapat beberaoa tipe kandang berdasarkan kontruksi atap, yaitu :
1. Atap bentuk jongkok
2. Atap bentuk A
3. Atap gabungan bentuk A dan jongkok
4. Atap bentuk monitor
5. Atap bentuk semimonitor

dokumen author

Bentuk atap mempengaruhi sirkulasi udara dari luar kandang ke dalam kandan, dan sebaliknya. Oleh karena itu, atap harus disesuaikan dengan penggunaan kandang dan fase pemeliharaan ayam. Contohnya, kandang yang beratap tipe A, ruangan dalam kandang lebih panas dibandingkan dengan ruangan kandang beratap monitor karena mempunyai kecepatan sirkulasi udara lebih tinggi. Kandang beratap tipr A cocok untuk pemeliharaan anak ayam (fase starter) yang butuh keadaan lebih hangar. Untuk ayam daea dewasa, lebih cocok mengunakan kandang tipe dinding terbuka semua sisi, terutama untuk daerah tropis.

b. Konstruksi dinding
berdasarkan konstruksi dinding, terdapat beberapa tipe kandang, yaitu:
1. Tipe dinding terbuka satu sisi
2. Tipe dinding terbuka semua sisi (opened house)
3. Tipe tebuka setengah dinding ke atas
4. Tipe tertutup semua sisi (closed house)

Pengunaan tipe kandang perli memperhatikan fase pemeliharaan atam dan lingkungan. Untuk pemeliharaan anak ayam fase starter, kandang yang sesuai yaitu tipe terbuka setengah dinding keatas karena memerlikan tambahan panas. Untuk ayam dara dewasa, leibh cocok mengunakan kandang tipe dinding terbuka semua sisi, terutama untuk saerah tropis.

c. Kontruksi lantai
Ditinjau dari segi aspek kontruksi lantai, kandang dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu lantai :
1. Kandang tipe lantai rapat
Termasuk kedalam tipe ini adalah kandang sistem litter atau deep litter system, yaitu kandang yang mengunakan alat penutup lantai untuk menyerap kotoran agar lantai tidak lembap dan basah serta proses dekomposisi kotoran ayam berlangsing sempurna. Untuk litter, dapat mengunakan bahan organik yang  besifat menyerap air. Contohnya, serbuk jagung yang dihaluskan. Bahan tersebut dapat di campur dengan bahan lain, seperti kapur dan super fosfat.
2. Kandang tipe lantai renggang atau berlubang
1. Cage/ battery system, kandang berupa kotak sangkar yang terbuat dari kawat atau anyaman bambu.
2. Wire floor system, lantai kandang terbuat dari anyaman kawat, biasanya menggunakan kawat ram.
3. Slatt floor system, lantai kandang menggunakan bahan berupa bilah-bilah yang disususn memanjang sehingga lantai kandang bercelah-celah. Bahan yang di gunakan berupa bilah kayu, logam, bambu, atau plastik. Lebar celah 2,5 cm  dan lebar bilah 2,5 cm dengan ketebalan 2,5 cm. Panjang disesuaikan dengan kebutuhan.

2. Berdasarkan penempatan ayam dalam kandang
Berdasarkan jumlah ayam yang ditempatkan dalam kandang, sistem perkandangan dibedakan menjadi 3, yaitu :
a. Kandang tunggal atau single cage/ battery, setiap sangkar berisi 1 ekor.
b. Kandang ganda atau multiple eges, setiap sangkar berisi 2-10 ekor.
c. Kandang koloni atau colony cages, setiap sangkar berisi satu kelompok ayam dalam jumlah besar, lebih       dari 20 ekor.

3. Berdasarkan fase pemeliharaan
Berdasarkan fase pemeliharaan ayam, kandang dibedakan menjadi 3.
a. Kandang indukan (brooder), untuk memelihara anak ayam umur 0-3 minggu.
b. Kandang grower/ pullet, untuk membesarkan anak ayam dan ayam dara umur 4-18 minggu. Biasanya, digunakan kandang lantai litter.
c. Kandang layer, untuk memelihara ayam periode produksi telur, umur 18-afkir. Biasanya, digunakan kandang sangkar, cage, atau battery.

RANGKUMAN

1. KONSTRUKSI
 a. Konstruksi atap
   - tipe jongkok
   - tipe A
   - tipe gabungan A dan jongkok
   - monitor
   - semimonitor

 b. Konstruksi dinding
   - tipe terbuka 1 sisi
   - tipe terbuka semua sisi/ opened house
   - tipe terrbuka setengah dinding ke atas
   - tipe tertutup semua sisi/ closed house

c. Konstruksi lantai
  - lantai rapat/ deep litter system/ postal
  - lantai renggang
    1. cage/ batteray system
    2. wire floor system
    3. slatt floor system
   - kombinasi

2. Penempatan Ayan Dalam Kandang
   1. Kandang tunggal/ single cage/ battery
   2. Kandang ganda/ multiple cage
   3. Kandang koloni/ colony cage

3. Fase Pemeliharaan
   1. Kandang indukan/ brooder
   2. Kandang grower/ pullet
   3. Kandang layer
Untuk lebih detail mengenai anatomi dan fisiologi ayam, silahkan klik disini

1. Tatanama Organ Eksterior Ayam 


Bagian organ ayam yang tampak dari luar terdiri dari bagian kepala, leher, terdapat paruh, jengger, cuping, dan pial. Sementara tubuh bagian depan terdapat dada dan sayap. Dibagian belakang terletak punggung, perut, ekor, paha, betis, dan cakar.

http://www.americancowboychronicles.com/

2. Organ Pelindung Tubuh
Kulit dan bulu berfungsi secara bersamaan membentuk organ pelindung tubuh yang berfungsi melindungi tubuh dari pengaruh luar yang buruk.

A. Kulit
Fungsi kulit antara lain sebagai berikut:
- Melindungi tubuh dari pengaruh temperatur lingkungan
- sebagai perlindungan terhadap masuknya mikroorganisme secara langsung ke dalam tubuh
- sebagai respirator untuk menerima pengaruh rangsangan dari luar.

1). Struktur kulit
- Epidermis adalah lapisan luar . Bulu, paruh, kuku, dan sisik merupakan perkembangan dari lapisan epidermis
- Dermis merupakan bagian utama dari kulit. Perkembangan dermis ini membentuk jengger, cuping dan pial

2). Jengger, cuping dan pial.

http://web.uconn.edu/

Organ ini merupakan kulit yang menjulur ke bagian luar. Pada ayam, umumnya epidermis kaya akan pembuluh darah sehingga organ ini berwarna merah. Jengger terdapat di atas kepala. Jengger ayam jantan lebih besar. Selain jengger terdapat juga pial pada bagian kedua sisi rahang bawah di bagian basal paruh. Cuping telinga bersifat berdaging tebal yang terletak di bagian bawah telinga. Warnanya bervariasi sesuai dengsn masing-masing bangsa ayam.

3). Paruh, kuku, paha dan cakar
Paruh, jari dan taji bersifat menulang, tersusun atas keratin. Kaki bagian bawah (shank) atau cakar pada ummnya tertutup oleh sisik, tetapi pada bangsa tertentu terutama yang berbulu total (seluruh tubuh), bagian cakar tertutup oleh bulu.
Kuku pada ayam sangat keras, kuku yang keras ini di sebabkan oleh keratin yang banyak mengandung kalsium.

4). Warna Kulit
Warna kulit terbentuk karena adanya pigmen.

B. Bulu
Tubuh ayam hampir seluruhnya tertutup bulu. Pada ayam dewasa. bulu mengalami pertumbuhan dan rontok secara alami. Kemudian bulu baru tumbuh kembali secara periodik sekitar setehun sekali dengan pengaruh hormonal. Proses rontok bulu disebut meluruh atau molting Selama ayam betina mengalami molting, produksi telur mulai berhenti. Fungsi bulu bagi ternak unggas sebagai berikut :
1. sebagai isolator
2. Melindungi tubuh dari luka dan infeksi karena gesekan langsung dengan benda keras
3. sebagai sarana untuk terbang
4. sebagai reseptor dari luar
5. perhiasan untuk memikat lawan jenis (secundary sex feather)
6. dapat digunakan untuk mendeteksi kondisi kesehatan dan menduga kemampuan bertelur.

Bulu tumbuh secara teratur di daerah tertentu yang disebut feather tract  atau pterylae. Terdapat 10 pterylae yaitu, kepala, sayap, leher, perut, bahu, paha, dada, kaki, punggung, dan ekor.

a. Bagian-bagian bulu
b. Bentuk bulu
- 1. Plumae, bulu penutup tubuh paling luar.
- 2. Plumumae, bulu yang terletak di bagian bawah plumae
- 3. Filoplumae, bulu halus yang terletak diseluruh permmukaan tubuh.

c. Bagian Warna bulu
Warna bulu dan pola bulu adalah karakteristik genetis.

C. Kepala
Kepala ayam terdiri dari jengger, kelopak,mata, bola mata, telinga, daun telinga, pial dan paruh.

D. Kaki dan cakar
Cakar dan sebagian besar kaki tertutup sisik dengan berbagai warna. Bagian cakar dan kaki adalah hock. Shnk atau tulang kering atau cakar, dan jari kaki atau toes. Kebanyakan ayam memiliki 4jari kaki disetiap kakinya, tetapi ada beberapa bangsa yang memiliki 5jari.

3.Kerangka
kerangka adalah suatu kesatuan sistem yang tersusun dari banyak tulang yang berfungsi menunjang terbentuknya tubuh sebagai tempat melekatnya otot. 
Juga berfungsi melindungi beberapa organ vital. Karakteristik kerangka umggas bersifat khas yaitu ringan dan berisa udara. Hal ini disesuaikan dengan kepentingan untuk bergerak cepat, berjalan dan terbang.
(gambar)

4. Otot
Unggas seperti halnya mamalia, memiliki 3 jenis otot, yaitu :
1. Otot halus
Otot yang membangun organ yang tidak dapat di kontrol, misalnya saluran pencernaan
2. Otot kardiak
Otot yang membangun jantung
3. Otot skeletal
Otot skeletal terdiri dari :
- Serabut merah, membentuk daging merah
- Serabut putih, membentuk daging putih
- Serabut intermedier, mengandung serabut merah dan serabut putih

5. Sstem Respirasi

http://people.eku.edu/

6. Sistem Pencernaan


http://www.poultryhub.org/

1. Mulut (paruh)
paruh ayam berfungsi untuk mengambil makanan, lidah di dalam mulut akan mendorong makanan ke saluran pencernaan.

2. Esophagus
Esophagus atau kerongkongan berupa pipa tempat pakan melalui saluran ini dari belakang mulut ke proventikulus.

3. Crop (tembolok)
Berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara.

4. Proventikulus
Suatu pelebaran dari esophagus sebelum berhubungan dengan ventrikulus.

5. Ventrikulus
Di ventrikulus partikel pakan akan di giling menjadi partikel kecil yang mampu melalui saluran usus.

6. Usus Halus
- Organ pertama  tempat berlangsungnnya pencernaan dan absorpsi produk pencernaan
- Terbagi menjadi 3 bagian :
  1. Duodenum
  2. Jejunum
  3. Ileum

7. Ceca (usus buntu)
Tidak ada proses pencernaan.

8. Usus Besar
Usus besar merupakan rectum, bentuknya melebar terdapat pada bagian akhirusus halus ke kloaka.

9. Kloaka
Saluran umum tempat saluran pencernaan dan reproduksi bermuara.

10. Vent (anus)
Lubang bagian luar kloaka.

11. Organ pencernaan tambahan
- Berfungsi membantu dalam pemprosesan pakan
- 1. pankreas
  2. lever
  3. kantong empedu

7. Sistem Reproduksi
1. Jantan
Sistem reproduksi jantan terdiei dari 2 testis. Testis tidak pernah turun ke dalam skorotum eksternal seperti pada mamalia. Testis terdiei dari saluran tubulus seminiferus yang menuju ke ductus deferent.

2. Betina
Sistem reproduksi betina terdiri dari ovarium dan oviduct
- Ovarium
Ovarium bertanggung jawab atas pembentukan kuning telur
-Oviduct
 1. Infudibulum, berfungsi untuk menangkap kuning telur (15 menit), dan tempat terjadinya fertilisasi
 2. Magnum, memberi albumen, selama 3 jam
 3. Isthmus, membentuk membran kerabangg bagian dalam dan bagian luar, selama1,5 jam
 4. Uterus, terjadi klasifikasi kerabang telur, selama 18-20 jam
 5. Vagina, penyimpanan kutikula di kerabang sehingga membentuk pori-pori, selama beberapa menit saja

Proses pembentukan telur memerlukan waktu 23-26 jam dari proses pembentukan kuning telur hingga terbentuknya telur yang siap dikeluarkan

8. Perkembangan Embrio
Perkembangan awal struktur pada ungggas berlangsung di dalam tubuh induk setelah terjadi fertilisasi, saat telur dalam tubuh. Perkembangan berlanjut setelah telur di tetaskan atau di eramiinduk. Ketika awal perkembangan terjadinya diferensi, terjasi tiga lapisan sel. Ketiga lapisan swl tersebut akan di kembang kan menjadi berbagai organ dan sistem tubuh.

1. perkembangan telur sebelum keluar tubuh dan di luar tubuh
  - Setelah fertilisasi, terbentuk zygote, perkembangan embrional di mulai
  - Sekitar 5 jam setelah ovulasi pembelahan sel pertama berlangsung, pembelahan selanjutnya 20 menit              kemudian
  - Satu jam kemudian, saat telur meninggalkan isthmus pembelahan membentuk 16 sel
  - Sekitar 4 jam berada di dalam uterus terebentuk 256 sel sebagai  blastoderm
  - Blastoderm berdiferensiasi menjadi :
   1. Lapisan pertama, ektodermis (membentuk kulit, bulu, paruh, kukuy, sistem syaraf, lensa dan retina                mata, serta lapisan mulut dan vent)
   2. Lapisan kedua, entodermis (membentuk organ saluran pencernaan dan respirasi serta sektori)
   3. Lapisan ketiga akan terbentuk pada saat telur ditetaskan atau di erami induk. Lapisan ketiga,                        mesodermis (membentuk tulang, darah, serta organ reproduksi dan organ ekskretori)

Oleh karena pada unggas embrio tidak memiliki hubungan langsung dengan induknya selama perkembangan embrinal maka zat-zat makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan embrio berasal dari telur itu sendiri. Penyerapan zat-zat makanan dan metabolisme selama perkembangan embrio dalam telur dapat berlangsung karena adanya membran ekstraembrional. Terdapat 4 membran ekstraembrional yang memiliki peranan penting selama perkembangan embrional yaitu amnion dan chorion, yolk sac, dan allantois.

9. Dasar-dasar Perkawinan
Tujuan perkawinan yaitu untuk meningkatkan populasi dan meningkatkan atau meperbaiki potensi genetik sifata produksi yang berguna bagi manusia. Secara teknis perkawinan pada unggas terbagi menjadi kawin alami dan buatan.
1. Kawin alami, perkawinan yang  terjadi secara alami tanpa bantuan manusia secara langsung.
  - Flock matting, perkawinan  antara sekelompok pejantan dengan sekelompok betina.
  - Pen matting, perkawinan antara satu pejantan dengan sekelompok betina.
  - Stud matting, perkawinan antara satu pejantan dengan satu betina.

2. Kawin buatan/inseminasi buatan, perkawinan antara betina dan jantan dengan bantuan manusia dan menggunakan alat (insemination gun).
author
Reyki Reyvalda
Sedikit bisa desain, resep mengbal, bageur, bener, pinter. Mau kaos hadé? Cék didieu lur!